Setiap hari, ia selalu saja bermain video game. bermain terus dengan teman-teman barunya, itulah dia, Rudi, seorang siswa yang sedang menduduki di kelas 9 SMP. Dia akhir-akhir ini tak bisa memanfaatkan waktu yang ada. Padahal Ujian Nasional sudah dekat. Aku juga cukup heran sama dia akhir-akhir ini. Rudi adalah salah satu teman sekelas yang terpintar juga duduk di sebelahku. Dia pernah mendapatkan juara 1 di kelas pada semester sebelumnya. Kebiasaannya dia memang selalu membaca, apalagi dia selalu membaca buku "Detektif Conan." Jujur saja aku juga suka. Suatu hari, aku pernah bertanya, "Rudi, apa sih cita-citamu?." "Cita-cita ku ingin menjadi seorang Detektif," Jawab Rudi. "Mengapa kamu tidak jadi penulis novel detektif saja? Kan lebih enak tuh, kamu kan paling jago mengarang kisah detektif," Kataku. Sambil tersenyum kepada bukunya yang ia pegang, "Aku tidak mau menjadi penulis novel, tetapi menjadi Sherlock Holmes masa kini," jawabnya dengan antusias. Mendengar hal itu, itu membuatku ingat akan kata-kata Shinichi Kudo yang pernah kubaca pada Volume 1. Ini membuatku yakin dia bisa mencapai cita-citanya itu.
Tetapi aku heran dengan Rudi saat ini, semenjak dia punya banyak teman dan prestasinya yang begitu melonjak menjadi tertinggi dikelas, membuatnya telah melupakan kebiasaan. Di mulai dari membaca komik digantikan dengan bermain video game berjam-jam, hingga berlarut-larut. Membaca buku pelajaran dan komik kesukaannya digantikan dengan bermain dengan teman-teman barunya. Inilah yang benar-benar membuatku heran selama ini. Suatu sore, 01 Mei 2014, aku bertemu dengan Rudi dan bertanya, "Eh, Rudi mau kemana sih? kayaknya buru-buru amat deh." "Biasalah, Pal," jawabnya singkat. dia kemudian membuang muka dan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Padahal sebentar lagi Ujian Nasional akan dilaksanakan, tetapi dia tetap saja santai. Aku tahu maksud kata 'Biasa' itu adalah bermain dengan teman-temannya atau bermain video game. Hanya dengan melihat mukanya saja yang berseri-seri memunculkan senyuman di wajah nya, membuatku yakin akan hal itu. Kemudian aku menlanjutkan langkahku menuju rumah.
Pagi hari, matahari bersinar dari ufuk timur, begitu cerahnya. hari yang menentukan, kelulusan. Kupakai seragam bersinar itu, ku ikat tali sepatu dengan erat-erat. Kupakai juga dasi yang membuat gagah. Aku berjalan dengan muka yang senang bercampur gelisah akan hari ini. Hari yang menentukan juga memilukan, yaitu kelulusan dan perpisahan. Aku meneruskan langkahku menuju sekolah. Tiba-tiba aku bertemu Rudi didepan dengan muka percaya diri serta muka jutek kepadaku. Ini membuatku naik darah tetapi tak ada gunanya. Aku teruskan langkahku masuk ke dalam sekolah. Seluruh siswa kelas 9 dibariskan dihalaman sekolah. Kepala Sekolah yang menjadi pembawa sambutan juga pembawa acara pada acara Kelulusan & perpisahan ini. Ketika Kepala Sekolah selesai memberi sambutan kepada siswa kelas 9, Kepala Sekolah mengumumkan hasil Ujian Nasional kami. Dan dengan terharunya, aku menjadi siswa yang meraih nilai UN tertinggi di SMPN 1 Kota Bandung. Sungguh, sungguh, ini membuatku sangat terharu. Nem ku 39.75. Bagaimana tak terharunya aku. Rudi hanya mendapat nilai Nem 27.95. Ini membuatnya sedih sekali. Dia sangat menyesal akan kelakuannya selama dijauh-jauh hari. Aku menghampirinya dan dia langsung berkata, "Gopal, maafkan aku... Aku harusnya tidak mengacuhkanmu, tidak bermain dengan teman-temanku itu. Harusnya aku belajar dengan rajin dan selalu berteman denganmu." "Tidak apa-apa, Rudi. Kau tetaplah teman yang baik bagiku. sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu." "Mulai sekarang sebaiknya kau lebih banyak belajar lagi, Rud," kataku. "Ya, kau benar, Gopal. Terima Kasih," jawab Rudi. Kurasa itu bisa menjadi pelajaran bagi Rudi untuk tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tak perlu dan juga tidak sombong kepada teman lamanya. (~Selesai~)
0 komentar:
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.